Jumat, 04 Juni 2010

TEATER KOSONG : “NENEK TERCINTA"
“KOSOOOONG!!!”
Begitu teriak semangat anak-anak teater sebelum mementaskan dramanya yang berjudul “NENEK TERCINTA”. Tapi dalam pementasan teater kali ini sangatlah unik, kreatif dan pastinya menarik. Tak heran kondisi malam minggu tanggal 3 April 2010, SMANSA yang biasanya hanya sunyi senyap menjadi ramai. Dalam pementasan kali ini mereka dalam kondisi indoor yang bertempat di aula. Eits, sebelum masuk ke stage ada hal yang menarik. Yang pasti setelah bayar tiket dan dicap kita akan melewati koridor SMANSA (sebagai akses ke stage) yang gelap dengan dihiasi cantiknya lampion-lampion yang redup enggan mati diterpa angin.
Akhirnya kita masuk deh di aula. Dengan duduk beralaskan lantai aula, para pengunjung tetap nyaman walaupun gelap dan hanya secercah cahaya di stage yang berlatar ruang tamu yang jadul. Wah akhirnya pementasan dimulai, dua MC membawakan acara serta tak lupa sambutan dari Pembina Teater Kosong, Bu Wewah. Iringan musik lembut dibunyikan seakan kita dibawa ke dalam suatu cerita. Serta tak ketinggalan lighting yang aduhai, menambah semakin jelasnya setting cerita.
(Thru thuk thuk thuk thuk), teater dimulai, riuh penonton dan tepuk tangan menyambut permulaan pementasan. Naskah karya Arifin C. Noer ini bercerita tentang kehidupan manusia, yaitu seorang nenek (yang biasalah) pikun. Seperti kata MC-nya berulang-ulang, ”Manja-mandiri-jadi manja lagi, yah itu lah hidup.” Dengan kepikunannya, tak ayal sebagian dari keturunannya sudah muak. Alhasil banyak cara yang dilakukan untuk membuat nenek itu (cepat) mati (benar-benar nih!), salah satunya dengan memanggil dukun YANG PASTI MANJUR DAN BERES, MBAK YU...untuk menenungnya (kalau nggak tau: nyantet). Untungnya salah satu keturunannya, Laila ingin menyelamatkan wanita tua yang hobi makan sayap ayam itu. Apakah Laila berhasil menyelamatkan neneknya? Apakah neneknya meninggal dunia? Makanya lain kali kalau ada pentas teater jangan lupa nonton...

Ketika diwawancarai Manda memaparkan bahwa untuk merubah dirinya berperan menjadi nenek (yang beda dari dirinya) ia harus konsentrasi, bernafas (ya iyalah), menggunakan rasa, susah dan latihan berbulan-bulan. Ada juga lho kesan penonton, seperti kata teman kita Faishal,”Udah bagus, dipertahanin, tapi tempatnya jangan di sekolah plus pemain-e banyak.” Hal serupa juga dituturkan Meta yang notabene jauh-jauh dari Smupi,”Bagus, suarane banter!”. Ternyata, teater yang disutradarai Heru Gembul ini mendapat apresiasi yang marvelous dan mampu menyedot penonton dari berbagai penjuru. Sampai jumpa di teater selanjutnya, dan tak lupa teriakan... ”KOOOSOOONG!!!”(D@n)


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna Veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat.

1 komentar:

  1. Syukurlah kalo Teater Kosong masih exis. sedang buletin Supel berubah menjadi majalah oase. Sukses buat adik2

    BalasHapus

Terima kasih bagi yang sudah bersedia berkomentar. Semoga makin ganteng dan cantik serta lancar rezekinya. Amiin!

REKRUTMEN TERTUTUP

14 Juli - 1 Agustus 2022