Cerpen: Gadis Penjual Lubang
Seperti biasanya, dalam rangka mengapresiasi karya-karya sobat OASE, kami tetap akan mem-publish karya-karya yang belum mendapatkan kesempatan untuk tampil di majalah OASE edisi ke-32, inilah salah satunya.
Gadis Penjual Lubang
Karya: Bayu Rangsang (X MIA 7)
Sore ini aku hanya meratap pada embun yang menetes pada sebuah daun di pot kecil sebelahku ketika duduk di teras rumah. Aku diam, tidak berpikir sedikitpun. Tak berani menebak apa alasan embun itu jatuh dari daun yang begitu nyaman dan sejuk. Kemudian, sebuah suara dari seorang gadis terdengar dari jalanan.
“Semuanya! Belilah barang barang saya!”
Ternyata dia hanyalah gadis yang berjualan. Dia membawa gerobak besar, namun barang jualan miliknya tertutup oleh kain selimut hitam yang lebar,
Bodoh,apa kau minta kami, para pembeli menebak apa yang kau jual?Dasar gadis. Pikirku
Sebagai pria,Aku benci kedua hal itu. Ya, kalian tahu...
Gadis, dan menebak. Dan aku rasa semua pria benci menebak-nebak
“Saya menjual berbagai macam lubang!” Teriak gadis itu kemudian.
Apa itu? Pikirku. Otakku kini mulai menebak. Menebak dari hal yang lumrah sampai yang tidak. Dia menjual lubang? Lubang itu sebuah kekosongan, bukan? Adakah orang di dunia ini menginginkan kekosongan? Gila. Aku terjebak dalam pikiranku sendiri. Aku terjebak dalam labirin yang memikirkan arti menjual lubang. Aku harus mencari jalan keluar. Akhirnya, aku timbul rasa penasaran dan membuatku tergerak mendekati gadis penjual lubang yang tak jelas itu. Aku tak bisa melihatnya dari dekat. Aku mempunyai minus yang lumayan besar.
“Apa yang kau jual,gadis?” Tanyaku malas. Beginilah, aku selalu malas berurusan dengan gadis. Mereka selalu terlihat terlalu menarik dimataku. Ah! Apalagi gadis ini, dia terlalu wangi.
“Saya menjual berbagai macam lubang, tuan” Jawab gadis itu manja. Ya, kepada orang yang baru dia kenal.
“Lubang?”
“Benar, tuan.”
Lalu dia membuka kain penutupnya itu. Dan didalamnya, adalah lubang. Ah, maksudku berbagai jenis benda yang mempunyai lubang. Gerobak itu berisi cincin,kalung,gelang,topi yang biasa digunakan petenis, sampai hal aneh yang tak terduga seperti ban karet dan donat. Ada juga beberapa hal lainnya. Mataku yang minus ini terlalu payah untuk melihat sesuatu dengan detail.
“Ke-kenapa kau menjual berbagai barang berlubang ?” tanyaku heran.
Gadis itu terkekeh.cara tertawa yang terlalu manis.Khas gadis.Dan aku dalam posisi yang disebut kebingungan.
“Tuan, semua orang butuh lubang. Dan sepertinya, tuan belum mempunyai satu” kata gadis itu, tersenyum.
` “Lalu, apa kau punya saran tentang lubang yang cocok untukku?”
Gadis itu diam dan mencari. Dia memperhatikan aku sebentar. Memperhatikan betapa usangnya pria yang dilihatnya ini. Lalu mencari di gerobaknya lagi. Dia menarik sesuatu di tangannya. Lalu tersenyum lagi. Dia menarik sebuah jam tangan.
“Ini yang tuan butuhkan.”
Gila. Dia mencarikanku sebuah jam tangan? Benar juga. Akhir-akhir ini aku tak peduli dengan arus hidup. Tak peduli waktu. Dan sebuah jam tangan? Dia seperti orang yang mengingatkanku akan hal yang sangat penting. Ah, mungkin dia hanya memilih jam tangan ini karena cocok untuk pria. Kurasa aku menebak terlalu jauh. Ah.. kenapa dia membuatku melakukan tebakan.Bahkan di pikiranku sendiri? Bukankah aku benci menebak? Aku seperti manusia yang bingung di hadapan gadis ini.
“Berapa harganya?” tanyaku.
Setelah aku membayar barang itu, dia terlihat senang.
“Senang berbisnis dengan tuan. Tuan bisa menemui saya lagi jika membutuhkan lubang. Karena, saya menjual berbagai lubang. Bahkan diri saya sendiri.”
Setelah dia berkata seperti itu, dia pergi menjauhiku. Aku memakai jam itu. Tersenyum. Lalu aku melihatnya dengan mataku yang rusak. Mungkin dia memang gadis, sekaligus penjual yang aneh. Terlalu aneh, bahkan. Terlalu wangi, terlalu manis,dan terlalu aneh. Mungkin dia memang terlalu gadis. Mungkin aneh aku mengatakan ini, tapi sepertinya aku tertarik padanya.
Ah! Tunggu! Kuingat kalimat terakhirnya tadi.. Dia menjual berbagai lubang? Bahkan dirinya sendiri? Apa artinya? Lubang pada dirinya?
Aku berlari mendekatinya yang telah mulai jauh dari hadapanku dan akan hilang di balik tikungan. Aku berteriak kepadanya.
Dia tak berhenti.
Aku berteriak lebih keras.
Dia tak berhenti.
Apakah dia punya gangguan pendengaran? Atau ada alasan dia tak mau berbalik? Atau..
Aku terlalu banyak menebak. Hingga saat tebakan ketiga di otakku, dia tepat didepanku. Aku dapat melihatnya dengan jelas. Aku akan menepuk pundaknya.
Tapi aku terkejut.
Aku tersentak ke belakang. Berteriak kaget sekeras-kerasnya.
Dia berlubang.
Dia adalah gadis yang berlubang sampai depan tepat di dada kirinya. Berlubang tepat di jantungnya bernaung. Kini tak ada yang berdetak di sana. Atau sebenarnya sejak awal memang tak ada. Atau..
Jantung. Heart.
Dia menjual pusat perasaannya itu?
Sial. Sial. Sial.
Aku berbalik dan mengumpat sendiri. Menjauhinya. Di hadapan gadis ini, aku sangat menjadi seorang penebak yang buruk. Gila. Gadis ini gila. Tidak, aku yang gila.
Ah, siapa yang gila!
0 komentar:
Posting Komentar
Terima kasih bagi yang sudah bersedia berkomentar. Semoga makin ganteng dan cantik serta lancar rezekinya. Amiin!