Cerpen: Tenggelamnya Sang Surya
Dalam rangka mengapresiasi karya-karya sobat OASE, kami tetap akan mem-publish cerpen yang belum mendapatkan kesempatan untuk tampil di majalah OASE edisi ke-32, inilah salah satunya.
Tenggelamnya Sang Surya
Karya: Sekar Arum Kusuma Jati (X MIA 6)
Gadis itu hanya duduk membisu. Kalut dalam dunianya sendiri. Orang-orang hanya melihatnya sebagai gadis berumur 16 tahun biasa. Namun sebenarnya, hatinya sudah tak berjiwa. Kusuma hanya menatap kosong bangku perpustakaan kota yang ada di depannya itu. Kenangan akan 8 bulan lalu, mulai terpancar jelas di memori otaknya. Seorang pria berusia 27 tahun pernah mengisi hari-harinya.
*8 bulan yang lalu, di perpustakaan kota*
“Duh, gimana sih ini. Banyak banget soalnya. Kok ada ya guru yang tega ngasih soal segambreng kayak gini. Mana susah banget lagi” gumamnya yang tak jelas itu terdengar hampir ke seluruh penjuru ruang.
Hingga akhirnya seorang pria duduk dihadapannya. Sebenarnya, Kusuma dan pria itu sudah sering berpapasan karena hampir setiap hari mereka mengunjungi perpustakaan yang sama, namun Kusuma tak menghiraukannya.Pria itu kini duduk dihadapannya dengan senyuman yang pasti akan membuat wanita manapun jatuh hati pada pandangan pertama.
“Hemm. Soal gampang kayak gini aja ngga bisa. Payah. Sini aku bantuin.” Sebuah senyuman tersungging manis di bibirnya. Meninggalkan kesan ramah yang membekas di hati. “Mmm. I..i..iya. makasih kak” ucapnya dengan terbata-bata.
Setelah puluhan menit berkutat hebat dengan 65 soal kimia, akhirnya mereka selesai mengerjakannya. Perbincanganpun berlanjut dengan santai. Namanya Surya, seorang sarjana lulusan fakultas teknik kimia di universitas ternama di Jogja dan sedang berada di Solo untuk suatu kepentingan.
Hari-hari berlalu, Kusuma dan Surya setiap hari bertemu di tempat yang sama dan di waktu yang sama. Tak terasa sudah hampir 2 bulan mereka saling mengenal. Walaupun belum lama mengenal satu sama lain, namun Kusuma merasa sangat nyaman berada didekat Surya dan begitupun sebaliknya.
Di hari Kamis sore, seperti biasa, mereka bertemu dan bergurau di sana. Tanpa disadari, Kusuma mengucapkan sebuah kalimat yang awalnya tak terpikir olehnya. “Kak, salahkah aku kalo suka sama kakak?”. Mendengar ucapan Kusuma, tawa Surya pun hilang seraya berkata, “Tidak! Seumpama itu memang kesalahan, aku juga ikut andil di dalamnya karena aku juga menyukaimu”. Suasana yang awalnya rileks menjadi tegang tak menentu. “Tapi janganlah kau terlalu berharap padaku. Karna hanya sesaat aku berada disini. Lebih baik kau mencari orang lain untuk kau sayangi,” tetesan air mata perlahan keluar dari pelupuk mata mereka.
“Aku hanya ingin berada di sisimu. Aku tak peduli dengan perbedaan di antara kita. Aku harap kamu mau menunggu kak,” tukas Kusuma. Helaan nafas terdengar dari lubang hidung Surya. “Akupun berharap kau bisa di sampingku. Tapi tolong janganlah kau memaksa. Kita tidak bisa melawan takdir. Lebih baik, mulai sekarang, lupakanlah aku. Aku tak ingin kau nanti menangis karna diriku. Dan aku akan berusaha untuk tak muncul lagi di depanmu.” Setelah mengucapkan kalimat itu, Surya langsung pergi meninggalkan Kusuma tanpa sepatah kata. Linangan air mata tak terbendung mengalir di pipi Kusuma.
Benar saja. Di hari-hari berikutnya, Surya tak datang lagi ke perpustakaan. Kusuma merasakan ada sesuatu yang hilang darinya. Bahkan hatinya lebih gelisah dari biasanya. Dua minggupun berlalu dan ia masih menunggu kedatangan Surya. Hingga di senja yang mendung, seorang asing datang dan mengatakan bahwa Surya telah berada di surga semenjak 7 hari yang lalu. Dia mengatakan bahwa Surya menderita kanker darah dan berada di Solo untuk berobat. Senja itu berubah kelam bagi Kusuma. Ia berusaha untuk tak percaya dan langsung meninggalkan orang itu.
Keesokan harinya, orang asing itu datang kembali menemui Kusuma dan mengatakan bahwa ia dimintai tolong oleh Surya untuk mengajak Kusuma pergi menemui Surya. Mereka berangkat menuju Jogja, tempat dimana raga Surya berada. Di sebuah pemakaman di pinggir kota, terletak sebuah nisan bertuan bertuliskan Surya Atmaja.
“Kak Surya ... ”
0 komentar:
Posting Komentar
Terima kasih bagi yang sudah bersedia berkomentar. Semoga makin ganteng dan cantik serta lancar rezekinya. Amiin!