Minggu, 12 April 2015

Cerpen : Takdir Sebuah Cinta (Versi Asli)
Cerpen ini adalah karya R Bayu Rangsang JS dari X MIA 7 yang tampil di OASE edisi Greyvolution lalu. Di majalah OASE kemarin, cerpen karya Bayu ini dipersingkat sesuai ketersediaan halaman. Nah, di sini akan kita tampilkan versi lengkap dari Takdir Sebuah Cinta.


Takdir Sebuah Cinta
Karya: R Bayu Rangsang JS

Keringat mengalir dari pelipis Densa. Keringat datang bukan karena kegerahan, tetapi kegugupan akan pertemuannya dengan wanita itu, di reuni SMAnya 4 jam lagi.
            Wanita itu adalah Neswari Henira Mochtar. Wanita yang membuatnya mengalami masa SMA yang menyenangkan. Mudahnya, Densa dulu menyuka-inya. Dulu Nira adalah gadis yang membuatnya menengok kearah yang sama selama 3 tahun di SMA. 3 tahun itu pula, Densa menderita sakit leher.

            Kini Densa diam mematung di depan pintu kereta Sriwedari AC. Dia ragu dengan keputusannya kembali ke Solo dari Jogja untuk sekedar bertemu alum-ni hatinya itu. Densa diam sambil memasang wajah dungu seperti kerbau autis yang kurang vitamin. Lalu Densa sadar, reuni tetaplah reuni. Dia datang bukan hanya untuk Nira. Tapi juga teman-teman lain. Akhirnya, dia menguatkan kaki untuk melangkah ke dalam kereta, mencari tempat duduk dan menyantaikan pantat untuk berkutat dengan kursi penumpang yang begitu nyaman.
            Kereta ini terlalu cepat datang. Keberangkatannya masih 30 menit lagi. waktu yang cukup untuk mengenang Nira di otak Densa.

            Delapan tahun yang lalu, Nira adalah gadis spesial di mata Densa. Gadis yang membuatnya terpikat setengah mati. Membuatnya rela menggaruk tanah, me-ngais sampah dan menelan rongsokan walau dia bukan pemulung liar yang ke-kurangan makanan. Namun nyatanya, Nira memang gadis spesial. Dia adalah perempuan jenius yang lembut dan penyayang. Densa sering berfikir, Kenapa ada perempuan yang ditakdirkan jadi sepintar, dan secantik itu?

            Nyatanya, antara Densa dan Nira tidak ada hubungan yang spesial. Mereka memang saling bercanda, berbicara, tapi hanya itu. Cukup. Mungkin bagi Nira, keberadaan Densa hanyalah seperti angin. Hal yang menyenangkan dan menyejukkan, namun hanya lewat begitu saja. Tapi itu hanyalah kemungkinan. Nyatanya, Nira yang selalu mencari Densa di jam istirahat untuk berbincang bersama. Nira yang setiap kali memandang wajah Densa dengan serius untuk mendengarkan kalimat demi kalimatnya. Nira yang selalu mencari-cari kesem-patan untuk bertemu Densa di waktu luang. Intensitas bertemu yang sering itu perlahan-lahan membuat mereka saling menyukai.

            Namun akhirnya mereka hanyalah 2 kapal yang saling berpapasan di la-ut. Dan berlayar melewati satu sama lain, tanpa memberikan sinyal atau suara satu sama lain. Hanya diam dan berjalan menuju takdir masing-masing

            Ketidaktahuan cinta ? cinta tak terbalas ? Bukan, ini memang soal takdir.

            Kereta mulai berangkat, bersuara nyaring dan bergerak melalui jalurnya sendiri. Rel adalah takdirnya. Densa diam dan memandang ke arah yang jauh dari jendela. Air mukanya menyiratkan sebuah kerinduan. Lalu dia menyumpalkan earphone ke kuping dan memutar lagu-lagu cengeng di playlist ipod­-nya. Saat yang tepat sekali. Senja datang. Dari jendela kereta tampak in-dah, matahari yang hendak beristirahat ditemani oleh selimut berwarna keme-rahan bernama langit senja. Densa sangat menyukai senja. Alasannya, senja i-tu hal indah yang sementara. Jika selamanya, Densa tak akan sesuka ini pada senja. Senja membuat setiap orang menunggunya datang, dan menikmatinya dalam sekejap. Dan mendapatkan kekecewaan tiap ia pergi. Dan mendapatkan kebahagiaan itu di sore berikutnya.
            Senja itu sementara. Kisahku dan Nira juga hanya hal indah yang se-mentara. Batin Densa.

            Kereta telah berhenti di tujuan terakhirnya. Stasiun Solo-Balapan. Densa keluar kereta dan langsung mencari becak untuk sampai ke tujuannya. SMA 1 Surakarta. Setelah mendapat becak, dia menikmati suasana malam di Solo yang indah. Bernuansa klasik,indah. Sesampainya di depan SMA pun, nuansa itu tak berubah. Suasana hatinya yang berubah. Tempat ini masih sama. Ber-nuansa hijau. Dari dinding yang hijau dengan banyak krem, warna cat kayu ju-ga hijau, ada banyak pepohonan dan rumput. 1 pohon beringin ada di lapangan menambah nuansa hijau. Di lapangan depan telah ramai oleh teman-teman se--angkatan.

            Densa dengan gugup berjalan melewat gerbang SMA. Tiada yang me-nyambutnya. Semua sedang sibuk bernostalgia sendiri-sendiri. Mengingat ma-sa-masa mereka sendiri-sendiri. Tidak ada yang menyadari Densa ? Apakah ti-dak ada yang sadar bahwa siswa kritis-menjengkelkan yang dulu selalu menja-di perwakilan sekolah pada olimpiade fisika dan selalu mendapat nilai 100 pada matematika ini sudah datang ke reuni ? Dari mata telanjang, di lapangan ini ter-kumpul kurang lebih sekitar 100 orang, jadi.. ada 100 cerita semenjak mereka lulus dari SMA. Dan mungkin mereka sudah lupa pada Densa Tapi saat ini, Densa hanya ingin mendengarkan cerita Nira. Bercengkrama dengannya. Hal yang sudah lama ditinggalkan sejak mereka lulus SMA.

            “Hoi, Densa Kumara Wijaya.. datang juga kau. Bagaimana kabar kau ?”
            dia adalah Zafiro Tohir. Teman bangku belakang Densa dulu.
            “Baik, Tohir. Hei.. Apakah kamu melihat Henira ? Dia sudah datang ?”
            Densa menjawab pertanyaan itu dengan malas, kepalanya sibuk menoleh kesana-kemari mencari wanita itu.
            “Aih.. masih kau cari wanita itu sampai sekarang ? ternyata benar kau suka padanya hah ?”
            “Begitulah Tohir, namanya juga masih SMA.. Sekarang aku hanya ingin melihat bagaimana paras dia sekarang”
            “Ah ! Densa.. ternyata benar.. kalau begitu tak salah aku dan teman-teman ngrecokin kau dulu. Ah.. tapi sayang.. gadis cantik itu tak datang ke sini. Dia sibuk katanya”

            Neswari Henira Mochtar tidak datang. 

            Malam itu Densa salah membuat berbagai rencana. Rencana tentang apa saja yang akan mereka obrolkan. Tidak mungkin Densa bicara sendiri. Ti-dak mungkin Densa mengajak bicara orang lain dengan topik yang hanya ia dan Nira yang mengetahuinya. Akhirnya, Densa hanya diam dan merenung.

            Apakah kita kadang dipersiapkan Tuhan untuk melakukan beberapa kegiatan yang tujuannya sia-sia ? Ataukah kita yang tidak bisa memanfaatkan kesempatan yang dulu telah diberikan Tuhan sehingga kita menganggap itu sia-sia ?

Dari hal yang sia-sia ini, Densa mengerti untuk memanfaatkan semua kesempatan yang ada. Supaya tidak menyesal di masa depan.
Tidak menyesal seperti dia yang kehilangan Nira.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna Veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat.

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih bagi yang sudah bersedia berkomentar. Semoga makin ganteng dan cantik serta lancar rezekinya. Amiin!

REKRUTMEN TERTUTUP

14 Juli - 1 Agustus 2022