Cerpen : Pemimpi
Pemimpi
Karya: Maulida N.
Masa itu dimana aku
belum mengerti apapun. Aku ingin tahu, dan aku akan tahu. Aku akan bertanya pada
siapapun yang bisa aku bertanya kepadanya. Aku akan mencari orang lain ketika
seseorang tak bisa memberiku kepastian. Tapi tak semudah itu, terkadang aku
dibohongi. Tapi aku tidak tahu...............
Suatu saat dimana aku sedang berada
di suatu tempat yang dipenuhi hal menarik. Aku melihat sesuatu yang
mengagumkan. Sesuatu itu bergoyang. Keren sekali. Ia bisa membuat manusia
sepertiku memperebutkannya. Meskipun benda itu bukan hanya satu, namun jumlah
manusia sepertiku jauh lebih banyak. Aku menarik seorang perempuan yang
membawaku, dia adalah ibuku. Aku bertanya, “Apa itu? Sepertinya menyenangkan
jika aku bisa memainkannya.” . “Baiklah, mari kita coba. Apakah kau akan
menyukainya.”. Kami pun berjalan menuju sesuatu yang bergoyang itu. Aku semakin
tertarik. Ternyata ia lebih tinggi dibanding dari tempat aku berdiri semula. Aku mencoba menaikinya.Wah, sangat
menyenangkan duduk disini. Menikmati semilir angin dan serasa terbang tinggi.
Kutanya, “Siapa yang membuat ini? Begitu menyenangkan memainkannya.” “Orang
ajaib lah yang membuat benda ini. Dia adalah ilmuwan!” “Baiklah, ketika aku
dewasa nanti, aku akan menjadi seorang ilmuwan dan membuat hal menyenangkan lainnya.”
Ibuku hanya bisa tersenyum.
Pada lain masa, ketika aku berumur 8
tahun. Aku masih ingat dengan begitu jelasnya. Waktu itu aku bermain bersama
kakakku di lantai atas. Kami berkejaran. Hingga aku menuruni tangga dengan
cerobohnya. Aku terpeleset, banyak darah yang keluar dari mulutku karena pada
waktu itu aku jatuh dan daguku menabrak lantai dasar. Aku menangis. Dengan
sigap ibu datang menolongku. Dibawanya aku ke rumah sakit. Seorang berbaju
putih dengan senyum yang hangat memeriksaku dan memberiku obat untuk
kesembuhanku.
Kutanya pada ibu, “Seorang berbaju putih tadi itu siapa, bu?”.
Ibuku menjawab “Dia adalah seorang dokter.” “Apakah dia baik?” “Tentu. Seorang
dokter pastinya baik karena dia menolong orang yang sedang sakit sampai orang
itu sembuh.” Jelas ibuku. Baiklah, pada saat itu aku memimpikan kelak nanti aku
dewasa, aku akan menjadi seorang dokter. Ya, seorang malaikat penolong.
Waktu terus berjalan, akhirnya aku
duduk di bangku kelas 6 tingkat sekolah dasar. “Dek, kamu harus lebih tekun
dalam belajar. Lihat ini, tryout sekolah
saja kamu mendapat ranking 98. Pokoknya, ibu akan mencarikan guru les privat
buat kamu.” Omel ibu kepadaku sewaktu ia menemukan hasil tryout yang sengaja kusembunyikan. Ini bukan pertama kalinya aku
mendapat nilai buruk. Sewaktu kelas 4, aku berhasil menduduki peringkat
terakhir di kelas dan ibu hanya menasihatiku agar rajin belajar.
Aku lebih
sering menghabiskan waktuku untuk tidur, bermain game, dan menonton tv. Kini, ibuku sangat mengkhawatirkanku saat
aku menginjak bangku terakhir tingkat sekolah dasar. Parahnya lagi, nilai ujian
nasional murni digunakan untuk mendaftar ke jenjang pendidikan berikutnya. Ibu
sangat ingin aku diterima di sekolah favorit di kota. Mau tidak mau, untuk
membuat ibu bangga, aku harus mendapat nilai yang memuaskan. Ada beberapa guru
privat yang di pesan ibu untuk mengajariku. Aku bosan. Suatu ketika, aku
bertanya pada Mbak Deby, begitu aku memanggilnya, “Enak nggak mbak, jadi guru?
Pasti ngebosenin banget deh.” “Mmm... Ya buat aku sih enak enak aja. Kalo
ngebosenin, enggak juga sih dek, jadi guru itu nyenengin kok, ketika guru bisa
mendidik murid-muridnya sampai akhirnya ia menjadi seorang yang sukses, pasti
ada kebahagiaan tersendiri. Kita enggak nuntut lebih kok. Makanya, guru itu
disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.” jelas mbak Deby kepadaku. “Aku baru
tau tuh, ternyata jadi guru itu hebat, ya?” Dan sejak saat itu, aku ingin
menjadi seorang guru agar dapat mencerdaskan kehidupan bangsa dan negara sesuai
tujuan NKRI. Sejak saat itu saya selalu mencari tau lebih jauh ingin menjadi
apa saya nanti.
“Itulah cerita saya tentang
cita-cita. Terimakasih atas perhatiannya.”
“Jadi apa cita-cita yang ingin kamu
capai nanti?” Tanya Ibu Yanti, pembimbing mata pelajaran bahasa Indonesia di
kelasku.
“Sebenarnya, saat mulai mengerjakan
tugas ini, saya bingung, apa cita-cita saya. Tapi, setelah saya memantapkan
hati dan pikiran saya tentang cita-cita saya, yang biasanya cita-cita itu lebih
didekatkan dengan ‘mau jadi apa saya nanti’ saya tidak lagi mementingkannya,
tetapi bagi saya mau jadi siapa saya nanti.” Suasana kelas seketika
menjadi hening.
“Apa yang akan menjadi profesi
seseorang di masa depan, itu tidaklah begitu penting tanpa dapat berguna bagi
orang lain. Saya telah bertanya pada diri saya sendiri. Dan akhirnya, saya
dapat menjawabnya sekarang.”
“Saya ingin
menjadi siapa saya, saya yang bisa berguna bagi Tuhan dan orang lain, yang bisa
mengasihi tanpa pamrih, yang merasakan duka bersama mereka yang berduka, yang
bisa membuat banyak senyum tulus dari hati mereka. Saya yang selalu ada untuk
orang-orang di sekitar saya. Saya yang selalu bisa berterimakasih untuk suatu
hal kecil sekalipun. Saya yang selalu bisa menghargai apa yang telah orang lain
perbuat, untuk saya. Saya yang selalu bisa mengajarkan kebaikan kepada orang
lain. Dan yang terpenting, saya yang selalu bisa menerima keluarga saya,
teman-teman saya, dan apa yang diberikan Tuhan untuk saya, apapun itu.”
Tepuk tangan
yang sangat meriah terdengar dari ruang kelas X IS 4. Mereka semua berteriak,
“Keren bangeettt!”
***
Jadi,
teman-temanku...... Cita-cita kalian pasti ingin menjadi seorang yang sukses. Begitu
pula aku. Tidak mungkin ada diantara kita
yang tidak ingin sukses. Apapun cita-cita kita, bagaimanapun hidup yang kita
jalani. Bergunalah kita dalam kehidupan ini. Karena kehidupan ini hanya sekali.
Jadikan itu yang terbaik yang pernah kita jalani J
0 komentar:
Posting Komentar
Terima kasih bagi yang sudah bersedia berkomentar. Semoga makin ganteng dan cantik serta lancar rezekinya. Amiin!